Ini kisah tentang 2 orang tetanggaku yang rumahnya berdampingan tapi terselingi sebuah gang sempit.Sebut saja namanya Si A dan Si B. Si A memiliki sebuah rumah bertingkat yang kebetulan ia kontrakkan dan beberapa kamar kecil yang ia kontrakkan terletak dibelakang rumahnya itu. Secara kebetulan akses masuk untuk orang yang kos dibelakang rumahnya ya...digang yang sempit itu, begitu juga dengan tangga untuk naik kelantai 2 bagi yang mengontrak disana. Kalaupun ada jalan yang lain harus jalan memutar cukup jauh. Sedangkan si B rumahnya tidak begitu bagus karena belum sempat direnovasi lagi setelah yang terakhir setahun lalu.
Seminggu yang lalu sebuah permasalahan timbul karena sikap si A yang terlalu cerewet. Ia tiba-tba marah karena si B telah menaruh puing-puing bekas renovasi rumahnya tepat dibawah tangga rumahnya untuk waktu yang cukup lama ( satu tahun , dan perang mulut terjadi. Si B sengaja tidak membuang puing tersebut karena masih bisa dipergunakan lagi, dan rencananya ia akan gunakan untuk menambah kekurangan bahan bangunan untuk renovasi nanti. Si B memang sengaja meletakkan puing tersebut di bawah tangga karena tak ada tempat lain untuk menyimpannya. Jadi bukan bermaksud membuat jelek pemandangan rumah si A.
Keadaan semakin meruncing sehari setelah si A marah-marah. Si B yang merasa tersinggung akan perkataan si A, akhirnya menyingkirkan puing itu keareal tanah miliknya di samping tangga. Bukan hanya itu ia pun membeli bahan bangunan untuk renovasi rumahnya dan meletakkannya lagi di samping tangga, yang secara otomatis menutup rapat jalan menuju kontrakkan dibelakang rumah si A dan juga menutupi jalan untuk naik ke tangga tersebut. Karena hal tersebut membuat orang-orang yang kos di tempat si A menjadi tak nyaman, mereka mengadu kepada si A. Keributan baru pun terjadi, si A marah-marah dan memanggil saudaranya untuk membelanya. Adu mulut tak terhindarkan, semua perkataan kotor pun terlontar dengan deras. Para tetangga yang lain merasa terganggu dan segera melaporkannya kepada RT setempat. Akhirnya permasalahan diselesaikan dengan cara lebih kekeluargaan, sehingga kedua pihak tidak melanjutkan perseteruan tersebut.
Begitulah romantika hidup bertetangga kadang terjadi perselisihan. Tapi kejadian tersebut tidak perlu terjadi andaikata si A mau bertenggang rasa membiarkan si B menaruh puing tersebut di bawah tangga rumahnya. Toh dia sendiri sadar kalau tak ada tempat lain selain disitu, karena kalau puing itu ditaruh disamping tangga sudah pasti sedikit menggangu jalan. Yang pasti itu bisa merugikan dia nantinya.
Kadang kita bertingkah laku seperti si A, bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Terpancing ego disertai emosi. Lupa Fitrah kita sebagai manusia yaitu mahluk sosial yang hidup berdampingan. Saling membutuhkan, memberi, bertenggang rasa, peduli akan keadaan sekitar.
Posting awal 25-02-2008
Senin, 02 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar